Pernah Nggak Ngalami Wartawan Cap Wartel atau Cap Warnet?

Zaman berubah. Perilaku pun ikut berubah. Berubah mengikuti perubahan zaman. Begitu pula dengan pola kerja wartawan. Pola kerja wartawan zaman dulu, dengan sekarang sudah ikut-ikutan berubah.

Dulu, iya dulu saat dunia internet belum semudah saat ini, wartawan lebih diutamakan mendapatkan berita di lapangan. Lapangan di sini dalam arti, sering keluyuran bertemu dengan narasumber. Ada istilah yang sangat umum waktu itu dipakai ke TKP (tempat kejadian perkara).

Karena pola seperti itu, ada cap yang kurang baik bagi wartawan yang mendapatkan berita bukan dari lapangan. Penggunaan telepon untuk mendapatkan berita sangat dihindari. Sebisa mungkin berita tidak didapat dari telepon. Meskipun dalam kasus tertentu, dituntut untuk konfirmasi melalui telepon.

Tidak jarang juga, saat sudah berada di meja redaksi, wartawan diminta kembali turun ke lapangan oleh redaktur untuk melengkapi data maupun membenahi tulisannya.

Karena itu juga, jika ada wartawan yang mendapatkan berita dari kluruan kerap mendapat acungan jempol. Wartawan yang rajin, tidak malas-malasan.

Dulu, jika ada wartawan yang sukanya telepon untuk mendapatkan berita, mendapat julukan khusus, panggilannya Wartel alias Wartawan Telepon. Sebutan yang sama dengan tempat usaha jasa telekomunikasi warung telekomuniasi (wartel).

Cap wartel yang disematkan pada wartawan di kala itu, sungguh tidak mengenakkan.  Apalagi, cap tersebut juga menjadi bahan cibiran. Maklum, sebutan itu yang menunjukkan sebagai wartawan yang malas ke lapangan.

Makanya saat itu, wartawan mesti sembunyi-sembunyi kalau menggunakan sambungan telepon untuk mendapatkan berita.

Sematan yang kurang enak itupun berlanjut saat internet mulai mudah didapatkan. Paket internet mulai dijual murah. Saat wartawan mulai menyesuaikan diri mencari berita di internet, juga ada sebutan kurang enak yang disematkan kepada mereka. Tahu nggak apa sebutannya? Warnet alias wartawan internet.

Sebutan itu nggak jauh beda dengan sebutan tempat usaha warung internet (warnet). Sama tidak mengenakkan, karena berkonotasi wartawan yang malas terjun ke lapangan.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sematan yang kurang mengenakkan kala itu tidak lagi laku saat ini. Sekarang ini penggunaan telepon maupun internet bahkan sudah menjadi kebutuhan. Lebih-lebih bagi wartawan yang sekarang ini sudah terjun di media online.

Di tengah bertumbuh kembangnya media online yang menuntut kecepatan, yang terpenting saat ini adalah penyajiannya cepat. Cepat tayang. Nggak harus nunggu besok.

Maka, mau tidak mau hal yang dulunya menjadi bahan cibiran, sekarang ini pun harus dilakukan. Hahaha…. Tuntutan zaman.

Bahkan, sekarang ini ada wartawan khusus yang memelototi internet, untuk memantau peristiwa-peristiwa baru. Termasuk juga memantau akun media sosial yang begitu cepat menyajikan kabar baru. Hitungannya tidak lagi jam, tapi menit bahkan detik.

Maka sekarang ini tidak heran, jika ada peristiwa di satu tempat yang tidak kelihatan ada wartawannya di lokasi itu, tiba-tiba saja beritanya sudah tayang. Nggak usah heran.

Ya, begitulah saat ini. Zaman berubah, perilaku wartawan dalam mendapatkan berita juga berubah. Dan yang pasti saat ini  tidak ada lagi sebutan yang kurang mengenakkan seperti sebutan wartel maupun warnet.

Sekarang ini, wartawan malah dituntut untuk banyak mencari tahu perkembangan berita lewat internet. Kalau tidak sering-sering melihat perkembangan informasi di internet, malah bisa ketinggalan berita.

Goodbye Wartel, dan Goodbye Warnet. (limawe).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *